More
    Home Blog Page 90

    Seminar Kebangsaan Jong Bataks Arts Festival

    1

    Seminar Kebangsaan Jong Bataks Arts Festival : Tak Ada Lagi Tokoh Batak

    Peran orang Batak dalam dinamika kebangsaan bahkan di dunia internasional, selama berabad-abad lalu cukup menonjol. Dalam setiap fase pergerakan bangsa ini, orang Batak selalu menonjol. Salah satunya dalam Kongres Sumpah Pemuda. Tiga tokoh Angkola pendiri Jong Batak itu antara lain, Amir Syarifuddin Harahap, Parada Harahap dan Sutan Gunung Mulia Harahap.

    Hari Kedua Jong Bataks Arts Festival Angkat Nuansa Karo

    0

    Memasuki hari kedua, Jong Bataks Arts Festival mempersembahkan pemutaran film “ngara” serta perform arts dari para seniman yang akan mengangkat nuansa budaya Karo dan “markombur”. Setelah sehari sebelumnya, menampilkan seni dan budaya dari Toba.

    Must See – Suara Parna Trio Bikin Suprise Juri Indonesia Idol Junior 2014

    Suara Parna Trio Bikin Suprise Juri Indonesia Idol Junior 2014
    Mereka adalah Andreas, Johannes dan Bobby Tinambunan
    Original Video: https://www.youtube.com/watch?v=m1STunLK8ek

    Live Cover “Ende Pangurason” – Pitta Rose & Alfred Phobia (Siantar Rap Foundation)

    Lagu Batak Ende Pangusaron Cover Live Performance Pitta Rose & Alfred Phobia (Siantar Rap Foundation)

    Lokasi Live Recording: Taman Bunga Pematang Siantar

    Makanan Terunik: Kidu Kuliner Unik Dari Ulat Bagot atau Ulat Sagu

    Ulat sagu atau ulat bagot sering dijumpai pada batang pohon aren (bagot) yang sudah mati. Kalau di daerah Karo ulat ini dijadikan makanan terunik sebagai kuliner tradisional yang disebut Kidu dan di daerah Simalungun disebut Hidu atau hudi.

    Diskusi Jong Bataks Arts Festival 2014: Kontribusi Pemuda Untuk Indonesia

    Kontribusi Pemuda Untuk Indonesia Konteks Sekarang – Diskusi Jong Bataks Arts Festival yang dilaksanakan di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara, Jum’at (26/92014) adalah rangkaian kegiatan pembuka untuk menyampaikan ke publik tentang perhelatan Jong Bataks Arts Festival yang akan digelar pada 25 Oktober 2014-1 November 2014 di Taman Budaya Sumatera Utara. Event ini sebagai media refleksi pemuda-pemuda Sumatera Utara memaknai sumpah pemuda.

    SPIRIT PEMUDA, MELAKUKAN TEROBOSAN

    Pemuda memang selalu hangat dibicarakan. Hal itu disebabkan dinamika yang dimiliki pemuda dalam berinteraksi dengan situasi budaya di sekelilingnya selalu tinggi. Apalagi kalau berbicara tentang pemuda-pemuda Sumatera Utara yang banyak berperan dengan terjadinya peristwa bersejarah pada era 20 an. Ada Amir Syarifuddin, Nahum Situmorang, Djamin Ginting dan banyak lagi. Hal itu terungkap dari pernyataan Jhon Fawer Siahaan, moderator pada diskusi sore itu ketika ia mencoba membongkar kembali kisah-kisah heroik para pemuda Sumatera Utara yang berjuang menegakkan nasionalisme di Indonesia.

    jong-bataks-art-festival-2014---01-diskusi

    “Pemuda itu jangan didefenisikan dari sisi usia. Tapi pemuda itu adalah sosok yang selalu memberikan gagasan-gagasan pembaharuan ke public. Memiliki spirit dan kekuatan untuk melakukan terobosan di wilayah yang belum pernah dijamahnya, baik itu wilayah social maupun kebudayaan,” ungkap salah seorang narasumber, Sultan Saragih (pegiat budaya Simalungun). Maka wajar saja bila Sumatera Utara pada era 50-70 an banyak menghasilkan orang-orang berpengaruh di segala sector kehidupan di Indonesia. Apalagi bila kita melihat produk kebudayaannya; pada era itu pemuda-pemuda Sumatera Utara banyak menghasilkan karya-karya seni; sastra, teater, perfilman dan juga percetakan buku.

    Hal yang perlu kita refleksikan pada diskusi sore itu adalah ternyata di era reformasi ini sangat jarang, atau bisa dikatakan tidak ada lagi pemuda-pemuda Sumatera Utara yang memiliki pengaruh dan kekuatan pembaharuan, terutama di sector kebudayaan. Padahal Sumatera Utara memiliki potensi yang cukup besar menjadi propinsi perfilman di Indonesia. Hal itu juga terungkap dengan pernyataan salah satu narassumber, Cressenda Tenori PL Sembiring (pegiat perfilman Karo).

    “Sumatera Utara memiliki sumber daya alam, kebudayaan dan manusia yang besar untuk menjadi profinsi perfilman Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari letak geografis, suku bangsa dan kapasitas manusianya. Alas an itulah yang menyebabkan saya pulang kampong. Dengan ilmu yang saya dapat di Pulau Jawa, saya ingin mengembangkan perfilman Sumatera Utara dan saya mulai dengan lebih serius menggali kebudayaan leluhur saya, yaitu Karo.”

    Diskusi sore itu yang sengaja dibuat informal lebih banyak menyajikan pengalaman-pengalaman pribadi para narasumber dalam melakukan suatu terobosan dalam hidupnya yang pernah dilakukan. Ketiga para narasumber memiliki kesamaan prinsip; melakukan seuatu hal dari yang diketahui. Walaupun sedikit, tapi hal itu bisa sangat berarti bagi kehidupan. Begitulah yang disampaikan salah seorang guru muda dari tanah Toba yang setahun belakangan menjadi pengajar daerah terluar di Papua, Herman Pardosi. Ia mengungkapkan dengan sedikit bersastra bahwa mengalirkan air ke laut itu indah, tapi lebih indah dan bermakna bila kita meneteskan setitik air di gurun. Itu pengalamannya yang sangat berharga untuk menginspirasi para pemuda Sumatera Utara ketika ia bertugas ke tanah Papua.

    “Masyarakat Papua lebih butuh makan daripada pendidikan. Jadi jangan heran bila pada suatu waktu ketika kita mengajar anaknya untuk membaca dan menulis tiba-tiba orang tuanya datang dan menyuruh anaknya untuk mengambil sagu. Kita sebagai pengajar tidak bisa menghalangi. Pendidikan di Papua, apalagi di daerah pedalamannya masih sesuatu yang asing dan aneh. Kita harus melakukan pendekatan-pendekatan yang lebih humanis untuk mengajak mereka belajat. Seperti yang saya lakukan. Saya sering bermain bersama dengan anak-anak Papua; berkejaran, mandi di sungai. Dari sanalah kita bisa menyadarkan ke mereka bahwa pendidikan itu penting.”

    Hal yang terpenting dari diskusi itu sebenarnya adalah sejauh mana efek yang dihasilkan dari ketiga narasumber kita itu dalam melakukan terobosan di profesinya masing-masing untuk menginspirasi pemuda-pemuda Sumatera Utara melakukan gerakan perubahan? Yah, para narasumber kita sore itu telah memberikan karya sesuai dengan yang mereka tahu dan mereka punya. Kalau kita mengaku memiliki spirit pemuda; terobosan apa yang bisa kita lakukan untuk memberikan dinamika kehidupan di Sumatera Utara?

    Ojak Manalu selaku Manajer produksi Jong Batak Arts festival mengatakan bahawa Jong Batak Arts akan di adakan pada tanggal 25 Oktober- 01 November 2014 yang bakal di gelar di Taman Budaya Sumatera Utara, kegiatan ini merupakan kegiatan swadaya yang digalang Rumah Karya Indonesia dan tetap masih terbuka untuk umum dan memberikan ruang kepada setiap komunitas yang ingin berkontribusi, adapun kegiatan nantinya dalam Jong Batak Arts Festival adalah Pameran Seni Rupa dan Pameran Foto bertajuk Geopark, Pertunjukan Tari, Musik,Pemutaran Film Lokal, Monsak, worshop, Pertunjukan Kolosal Opera Jong Batak dan di sertai dengan lomba Vokal Solo, Photogarafi, Mewarnai, Orasi Budaya dan baca Puisi.

    Jong Bataks Art Festival 2014 Dan Sumpah Pemuda

    Jong Batak Art Festival adalah kegiatan rangkaian pagelaran Budaya Batak meliputi pertunjukan seni budaya, Musik, Tari, Rupa, film, Seminar ( Diskusi) Worshop & pertunjukan Tradisi.

    Festival dan Pesta Danau Toba 2014

    4

    Setelah kegiatan Festival Danau Toba pada tahun 2013 di Tuktuk, Samosir yang dituanrumahi Kabupaten Samosir ditetapkan untuk kegiatan Festival Danau Toba berikutnya di tahun 2014 diadakan di Balige. Festival Danau Toba 2014 mendatang diadakan selama 5 hari pada tanggal 17 – 21 September 2014 di Balige oleh Kabupaten Toba Samosir.

    Saut Poltak Tambunan

    Saut Poltak Tambunan, adalah seorang penulis cerita pendek, novel, skenario, puisi, kolom, artikel. Mantan PNS, tahun 1981  ikut mendirikan Himpunan Pengarang Indonesia AKSARA di Jakarta dan menjabat sebagai Ketua I dan juga menjadi Ketua Yayasan Pengarang AKSARA hingga sekarang.   Oktober 2009 mendirikan Komunitas Kedailalang – Kedai Sastra Ide Kalimalang bersama Kurnia Effendi (KEF) dan teman-teman. Aktif menyelenggarakan workshop penulisan cerpen/novel dengan bukunya ’Kiat Sukses Menulis Novel’.
    Terpilih menjadi peserta pembicara pada festival sastra internasiomal UWRF 2011 (Ubud Bali Writers & Readers Festival), dan pada UWRF 2012 diundang sebagai senior kurator.

    Pemuda Batak Kreatif di Perantauan Buat Kegiatan Pulang Kampung

    Mulak tu Bonapasogit Jilid II adalah sebutan program yang diprakarsai oleh beberapa pemuda kreatif batak di perantauan di kota Bandung. Para pemuda ini bernama BK ETHNIC. BK ETHNIC adalah sebuah komunitas kreatif pemuda-pemudi Batak yang mengangkat tema-tema kearifan lokal budaya batak yang diaplikasikan melalui produk-produk suvenir seperti kaos, topi dan asesoris lainnya.