Kemudian hari itu juga ia,menyiapkan segala keperluan,dan kembali mendatangai Bos nya,dan si Bos pun tak pikir panjang lagi,langsung menyetujui izin cuti selama tiga hari,si bos juga merasa senang mendapat kabar berita itu dari anak buahnya.
Esok harinya,ia mengurus segala berkas dan dokumen perjalanan,mengurus visa dan paspor ke kantor Kedutaan Malaysia di jalan Rasuna Said Kuningan.
Hari berikutnya ia terbang ke Malaysia,sepanjang perjalanan didalam pesawat,ia membayangkan wajah ibotonya itu,perasaannya antara sedih dan bahagia,sedih kala mengetahui adiknya sedang terbaring sakit dan tak berdaya dirumah sakit,dinegara lain pula.Bahagia,karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan adiknya itu,keadaan dan situasi harus memisahkan mereka dlm kurun waktu yang cukup lama.ah..kasihan sekali nasib ibotoku ini,bathin nya seakan menggugat.
Belum lagi pertanyan-pertanyaan lainya yang menyelubungi pikirannya,kenapa bisa sampai dia ke malaysia,siapa yang bawa dia,kerja apa dia disana,dan sakit apa farida?yang pertanyaan lain nya…
Pesawat berjenis Boing 737 berwarna merah dominan yang ia tumpangi dari Bandara Soekarno Hatta itu ahirnya tiba di Air Port Kuala Lumpur Malaysia,dan setiba disana ia segera mencari taxi untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sabah.
Dan sebelum tiba di Sabah,ia sudah menghubungi teman perempuan adiknya itu.
Kemudian mereka bertemu sekaligus berkenalan singkat di Loby Gedung Hospital itu.
“Sri Sulastri…”kata perempuan itu memperkenalkan diri sambil mereka saling berjabat tangan,kemudian mereka ngobrol sejenak,sekedar basa-basi.dan ternyata ia berasal dari Jember,Jawa Timur.seorang Pekerja Imigran yang sudah enam tahun bekerja dan berdomisili di negeri Jiran itu.
Kemudian gadis itu megajaknya ke lantai 8 Hospital itu,tempat dimana Farida sedang dirawat.
Tak sabar rasanya ia ingin segera bertemu dengan adiknya itu,ingin rasanya cepat-cepat bertemu dan memeluk tubuh ibotonya itu,melepas semua kerinduan.
Ia langsung menyongsong ke arah tubuh adiknya itu..
“Ito….farida…ini aku ito,abang mu..si Hxxxan..”katanya sambil mendekap tubuh adiknya itu.
Tubuh farida ditancapi berbagai peralatan selang medis,dan tersambung ke layar monitor komputer.
“Ito…sakit apa kau..?amang tahe iboto ki,ikkon songonon ma sitaonon mu hape ito hasian..”katanya sambil menangis terisak..
Farida tampak terbaring,matanya tertutup rapat,dan sama sekali tidak merespon,hanya jemari tanganya sesekali bergerak refleks menandakan masih ada tanda denyut kehidupan.
Ia mengusap usap kepala adiknya itu penuh dengan kasih sayang.
“Sakit apa farida mbak..?”tanya dia pada Sri kawan baik farida itu.
“Dua hari yang lalu,tiba-tiba dia pingsan dan jatuh terjerembab di tempat kerja,kepalanya membentur benda keras..”
“Hah…!!”katanya keget..
“Emang farida kerja dimana selama ini mbak,bidang apa,sejak kapan?”tanyanya penuh selidik..
Kemudian Sri menceritakan semuanya

