Kini,ia sudah bekerja disalah satu Dinas Instansi Pemprov DKI Jakarta.
Dua tahun kemudian.
Ia kembali kekampung halaman,menjejakkan kakinya di depan rumah yang menyimpan seribu satu kenangan dalam benaknya,Rumah tempat dimana dahulu ia dilahirkan,penuh kenangan walaupun hanya sesaat.
Rumah panggung yang reyot,berdinding papan lusuh dan lapuk,tinggal menunggu waktu rubuh.seakan jadi saksi bisu akan semua masa lalu yang masih jelas dalam ingatan nya,walau menyisakan kesedihan.
“Ah..aku masih bisa bayangkan sebuah kehidupan masa lalu dirumah ini bang..”katanya kepadaku diujung percakapan kami sambil langkah kakinya mendekat kearah pintu Rumah itu.
Dibulan Juli,tahun yang lalu,ia sengaja minta ijin cuti dari kantor,ia menceritakan tujuan utamanya pulang kampung yaitu mencari keberadaan adik perempuanya,Farida,yang telah 5 tahun tak ada kabar dan berita,sekaligus ingin jiarah le makam ibunya.
Mendengar cerita itu,si Bos,yang asli dari Solok,Sumatera Barat itu,langsung memberi ijin cuti selama delapan hari.
“Semoga kau dipertemukan dengan adik mu farida,harapan saya begitu,segeralah urus segala keperluan mu..”kata si bos sambil menandatangani secarik kertas diatas meja.
Dua hari kemudian,ia pulang kampung ke Siantar.
Sesampai di siantar,ia sengaja menyewa mobil rental selama 4 hari.
Pencarian jejak adiknya farida pun dimulai,mulai dari teman sekolah,hingga kenalan adiknya itu dijumpai satu per satu,mulai dari Batu anam,kampung karo,tanah jawa,sampai dolok melangir,bahkan sampai ke medan,namun hasilnya nihil.!!
Hari ke lima ia kekampung,walaupun selama pencarian empat hari tak menunjukkan titik terang keberadaan adik saru satunya itu,ia merasa yakin dan optimis,suatu saat ia akan berjumpa dengan adiknya itu.
“Entah kenapa bang,aku merasa yakin sekali suatu saat bejumpa dengan iboto ku itu..”katanya padaku penuh harap.
Sore,sekitar pukul empat,ia berjalan lunglai,menuju ke makam ibunya,jaraknya tak begitu jauh dari bekas rumah mereka.
Ia bersujud persis disamping makam itu,tatapan matanya penuh hampa,jiwanya bak kering,matanya berkaca kaca,tak lama kemudian ia menangis.
“Tak adil rasanya dunia ini bagiku mak,begitu pahit perjalanan hidup yang harus kulalui,tanpa kau,bapak,bahkan ito farida…aku bagai manusia gagal,yang tak mampu menjaga adikku,aku bagai laki laki yang tak bertanggung jawab..aku tak tau kemana lagi harus mencari farida,aku rindu kepadanya,seperti hal nya aku merindukan mu mak,tapi…”mulutnya seperti tiba tiba tertutup,lidahknya bagai terasa kaku..ia seperti tak mampu melanjutkan kata katanya.
“Aku tidak pernah merindukan bapak,dan aku sangat membecinya,sampai kapan pun..maafkan atas keputusanku ini mak,terlalu banyak derita yang kami tanggung sejak kepergian bapak,apalagi setelah mengetahui ia menikah lagi dengan wanita lain,aku marah,kesal,benci dan seribu alasan lagi untuk membuatku membecinya,ia seperti menghianati cintamu,suami yg dulu kau sayangi,ia mencapkkan kami,bagai batang batang padi yang usai dituai bulir padinya,dibuang dan dicampakkan begitu saja,seolah tak berarti.
Aku sama farida,bagai anak ayam kehilangan induknya,hari-hari kami lalui penuh dengan hati yang terluka,tak tau berbuat apa,kami hanya bisa menangis dan menangis.

