Cerpen: Boru ni Tulang

3

“Atention please..ladys and gentelemen..,bla,…bla…bla…….”
Sayup-sayup terdengar suara merdu dari salah seorang crew pesawat,yang mengumumkan bahwa sesat lagi pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Kualanamu,mataku masih terkantuk-kantuk dan kucoba menyegarkan diri serta memasang kembali sabuk pengaman yang sejak mengudara dari Bandara Sukarno -Hatta kubiarkan terbuka agar lebih leluasa dalam tidurku,perjalanan selama 9 jam setelah sebelumnya transit di Dubai dan Changi di Singapura ahirnya tiba di Tanah Air,penerbangan yang melelahkan terasa sirna seketika saat roda Pesawat berjenis Boeing 777 itu,menyentuh landasan.
Saat menuruni tangga pesawat,perasanku makin membuncah
Aku tidak begitu mengenal Bandara ini,karena saat meninggalkan kampung halaman sekitar 15 tahun yang lampau, aku berangkat dari Bandara Polonia Medan,Bandara Kualanamu sangat berbeda dengan Polonia dalam ingatanku dulu.

Sambil berjalan menuju ruang tunggu bagasi,pandanganku menatap liar ke sekeliling ruangan,Disain interiornya terkesan modern dan apik,lantai dilapisi karpet bermotif minimalis,ruangan dilengkapi dengan sirkulasi udara langsung,sehingga tak perlu memakai penyejuk ruangan(AC)demikian juga pemanfaatan cahaya matahari,yang bisa langsung menembus masuk ke
Ruangan,sehingga dapat mengurangi penggunaan listrik diwaktu siang,dan pastinya disain dan arsitektur bangunan modern Bandara,yang baru diresmikan pengoperasiannya setahun yang lalu ini, hemat energi dan ramah lingkungan.
Sampai diluar Bandara,kucoba mengikuti rekomendasi dari seorang sahabat baikku,Damanik di Roterdam,kebetulan kampung halaman-nya di Siantar,agar aku mencari Taxi resmi Air Port khusus tujuan P.Siantar,karena bisa dibooking hingga ke alamat tujuan,tentu harus mengeluarkan biaya ekstra tambahan lagi.
Kijang innova berwarna hitam ahirnya meluncur meninggalkan bandara Kualanamu,bersama beberapa penumpang lainnya menuju Pematang siantar

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here