BATAK KU SAYANG, BATAK KU MALANG… (1) “Jangan Kawin dengan Orang Batak!”

10
12337

Sebaiknya tarik nafas dulu sebelum mulai membaca. Dan jangan terlalu emosi, atau mereka akan terus melarang anak mereka untuk menikah dengan orang Batak. Mari intropeksi diri. Gobatak mengangkat tema ini untuk sekedar mengajak kita untuk lebih mendengarkan orang lain. Bukan untuk mendukung sang penulis “Saya  Orang Indonesia (Jangan Kawin Sama Orang Batak, I & II)” di blog Softly & Slowly yang Gobatak ‘intip’, namun bukan juga untuk mendukung kebiasaan Batak yang  menurut saya dan masyarakat suku lain, “terlalu menakutkan”.

Batak terkenal dengan kebringasan, keberanian, ketegasan, kelantangan dan segalanya yang berbau ‘PENEGAKAN’. Tunggu dulu, hal ini tak terlalu buruk. Tapi, bagaimana dengan Batak yang membandel bila diingatkan untuk tidak merokok di tempat umum? Dengan Batak yang dengan suara kerasnya, sifat ‘sok hebat’ dan ‘paling’ yang telah tertanam dalam diri mereka. Coba perhatikan pula pejabat Batak.

Tenang saja, gampang sekali mengenali mereka. Cari saja induknya, maka kita akan dengan mudah bisa mengetahui “kekeluargaan” Batak yang katanya sangat ampuh untuk bertahan hidup itu. Dan, ingat 1 hal? “tondong ni tondong gabe tondong”. Syukur-syukur juga kalau mereka bisa mengangkat nama baik Batak, eh, malah menjatuhkan. Dan, Batak yang selalu ‘kuat’, ‘gagah’ dan ‘hebat’ itu selalu muncul di pasar premanisme. Dimana ‘anak ni Raja’ yang terkenal itu?

Maka, kita tetap tidak bisa melarang orang lain untuk terus berpikir negatif tentang kita. Orangtua yang melihat perilaku Batak ini, tentu punya alasan tersendiri mengapa mereka melarang anak mereka menikahi Batak. Maka, bila kita terus menerus menjadi Batak yang benar-benar Raja. Dalam artikel Segelintir Tanya di balik HABATAHON (5)  Batak: Siapa ‘Raja’ Kami?, dikatakan dengan jelas, seorang Raja haruslah berperilaku rajani. Dan, gadis mana yang akan menolak seorang ‘Raja’ yang rajani, yang kuat, hebat, gagah, berani, tegas dan cinta damai serta keadilan, jujur, disiplin, dan berkemauan keras?

Bukan saatnya terbakar emosi mendengar orang-orang berpikiran negatif tentang kita. Saatnya membuktikan bahwa kita tetap Raja, Batak adalah Batak. Di balik kekerasan kita, sesungguhnya tersimpan kelembutan, dan sudah saatnya berhenti “sok jago”. Masih ada langit di atas langit. Dan suatu saat nanti, akan terdengar dimana-mana, “menikahlah dengan orang Batak. Mereka menantu yang baik.”

10 COMMENTS

  1. …..saya tertarik dengan ulasan pak Lius Royal F, memang kalau biasanya Batak masih sedikit boleh dikatakan paling baik, tetapi kalau sdh ramai maka mereka akan mau merajai . Kami juga dahulu sewaktu masih 2/3 keluarga ditengah orang kita jawa dan MELAYU begitu baiknya hubungan dan silaturahmi kami, tetapi setelah 15 KK tau bapa yang terjadi ? semua hampir menjadi milik kami , halaman , pekerjaan dan yang yang paling ngeri manggang B2 juga di sana bukan hal yang tabu lagi.

  2. biar ajalah ada orang beranggapan seperti itu, tak usah tersinggung, tak rugi juga kok.
    yang penting orang Batak maju terus.

  3. saya kawin sama orang batak, memang sifat orang batak itu kasar & keras. suami saya pun bilang emosi lihat tingkah orang batak dijalan khususnya yang berprofesi sebagai supir angkot, tukang becak, dll. kalau orang batak bawa mobil angkutan sudah tau dari caranya berhenti di tengah jalan turunkan penumpang atau kebut-kebutan rebutan sewa angkot. suami saya juga tidak suka dengan prilaku laki-laki batak yang minum tuak & budaya merokok. apalagi ditambah main judi. tapi kita jangan sama ratakan semua orang batak seperti itu, mungkin itu sebahagian saja, tapi orang batak yang punya pendidikan, taat beragama, dari kalangan kelas menengah atas, sedikit yang bertingkah seperti itu.

  4. saya dan suami saya memang hidup di luar lingkungan batak, soalnya kata suami saya hidup hanya sekali jadi hidup harus tenang, nyaman dan bahagia. sekali-sekali saja kita lihat saudara-saudara kita itu & berbaur dengan sesama orang batak. maklumlah bicara yang menjurus kasar & memakai kata-kata makian, saya & suami saya kurang sedap mendengarnya. itulah pengalaman saya menikah dengan laki-laki bersuku batak walaupun saya berasal dari suku non batak. buktinya suami saya tidak merokok, minum di kedai tuak, main judi, juga bahasanya baik & tidak kasar. taat beribadah sampai dikaruniai 5 orang anak kehidupan rumah tangga kami baik & bahagia. tidak semua orang batak digambarkan sesuai dengan tulisan diatas, mungkin banyak tapi tidak terlalu. Merdeka^^

  5. saya 2 kali urusan bisnis dgn batak 2 kali juga d bohongi intinya saya tidak mau urusan sm batak kalau sifat keras.sok. Kalau bisa di imbangi dengan komitmen

  6. Menurut saya orang batak itu tidak seperti apa yang kita pikirkan.Memang orangnya nampak kasar dalam berbicara,tetapi ia tidak bermaksud untuk menyakiti,melainkan komunikasi biasa.Jadi,untuk lebih mengetahui latar belakang suku batak alangkah baiknya kita berkenalan scr lansung,atau open mindset untuk konektifitas pertemanan

  7. jangan pernah hina suku orang batak. semua suku di indonesia sudah pasti ada jelek nya, terkecuali suku batak yg terbaik dan di junjung tinggi adat budaya batak dari leluhur nya. Mantap…

  8. Orang batak itu pada umumnya pemberani, kerjasama di adat hebat dan kompak, tp dlm berbisnis kurang kompak, coba klu seperti kekompakkan dlm beradat ini diterapkan dlm berbisnis, orang batak akan lebih disegani oleh suku2x lain di indonesia bahkan dunia kalee,,,

  9. jaman skrg adat batak ortodok gak relevan lg.. apalgi acara pernikahan dan kematian malah dibuat ribet apagi klo calon istri dr luar batak.. waah byk yg kapok.. blm lg acara mangadati keluarga batak baru blm apa apa sdh dimintain biaya smp puluhan juta. Orang batak skrg payah, bilangnya aja kompak dlm beradat tp nyatanya mlh byk yg diperalat ke bisnis smp habis uangnya. Seharusnya jaman skrg adat yg baut ribet dan boros spt itu diperbaharui. Negara China dan Jepang saja bisa modernisasi budaya knp org Batak gak bisa..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here