Home Breaking News Batak, Cina, Korea: Pecinta Daging Anjing?

Batak, Cina, Korea: Pecinta Daging Anjing?

4 9,456 views

Anjing adalah hewan lucu yang terkenal setia pada tuannya. Bahkan ada anecdote yang mengatakan bahwa anjing lebih sering terkesan lebih setia daripada seorang istri (bah!) dengan alibi, yang pertama kali menyambut seorang suami di rumah adalah si Mophi dan si Blacky dengan gonggongan khasnya.

Namun, bagi beberapa negara di dunia, menyantap daging anjing, entah sebagai sup atau diolah menjadi jenis masakan lain, bukanlah hal aneh. Bagi masyarakat Korea, sebagaimana yang Gobatak kutip dari inilah.com, daging anjing dipercaya berkhasiat meningkatkan stamina, sirkulasi darah, sumsum tulang,  dan meningkatkan nutrisi. Bahkan, anjing menjadi menu utama yang paling dicari selama musim panas. Bahkan, di Korea Utara, pemerintah mengadakan lomba masak dengan anjing sebagai bahan utamanya. Untuk memperhalus penyebutannya, daging anjing diberi kode Dangogi.

Di China, sebagaimana yang Gobatak kutip dari UMY, ada jenis menu masakan dengan anjing sebagai bahan utamanya, menggunakan proses yang membuat hati miris. Bagaimana tidak, hewan setia itu dipukul sampai mati, kemudian dikuliti, digepengkan lalu dikeringkan. Bahkan bagi masyarakat Cina, daging anjing dipercaya bisa meningkatkan libido lelaki.

Di Indonesia sendiri, di beberapa provinsi yang penduduknya non-Muslim, daging anjing masih diminati. Di antaranya di Menado, Minahasa, dimana daging anjing ini diberi kode RW. Di Solo dan Jogja, dinamakan jamu atau tongseng asu, atau sengsu. Di masyarakat Batak, terlebih Tapanuli Utara, daging anjing ini dikenal dengan kode B1 alias tambul biang. Bagi umat Muslim, menyembelih dan memakan daging anjing ini dilarang.

Di masyarakat Batak, daging anjing ini biasa dihidangkan sebagai pendamping tuak, alias sebagai tambul. Meminum tuak dirasa kurang nikmat apabila tidak ada tambul yang mendampinginya. Selain itu, permintaan akan daging anjing akan meningkat apabila demam berdarah dan tifus sedang mewabah. Daging anjing ini dipercaya bisa membantu penyembuhan penderita tifus dan demam berdarah.

Kini, tambul biang ini menjadi salah satu makanan khas yang seringkali dijadikan makanan favorit bagi orang Batak. Tentu saja, butuh perjuangan dan trik yang hebat untuk ‘mengakali’ bau yang tertinggal di dalamnya. Bagi masyarakat Batak, daging anjing kini telah menjadi ‘makanan favorit’ yang ‘wajib’. Untungnya, sejauh ini, populasi anjing belum habis meski sudah disembelih dan disantap oleh banyak orang. Entah bila anjing-anjing malang itu punya kesempatan hidup. Kasihan juga kan, kalau hewan yang setia dan lucu ini mesti punah karena di-tambul-kan.

Kaos Polos Murah Siantar

4 COMMENTS

Leave a Reply