Pematangsiantar Kota Preman?

2

Kota yang disegani di Indonesia ini menyimpan banyak hal yang menjadi keunggulan yang bahkan barangkali terlupa oleh Siantar Men sendiri.

Berdiri sebagai generasi dari Kerajaan Siantar, kota yang terkenal dengan Roti Ganda-nya ini kini berkembang pesat dan telah menghasilkan tokoh-tokoh besar yang kita bahkan tak pernah sadari bahwasanya mereka berasal dari Siantar, kota kecil yang damai. Mulai dari seniman Eddy Silitonga dan Cornell Simanjuntak, hingga atlit bulutangkis hebat Dick Sudirman dan petinju Syamsul Anwar Harahap. Juga Syamsir Siregar yang mantan kepala BIN, Aberson Marle Sihaloho yang adalah politikus, Sudi Silalahi dan TB.Silalahi, bahkan Adam Malik yang adalah mantan Wakil Presiden Indonesia ke-3.

Terlepas dari apa yang ada di antara Ganda dan Kok Tong, atau RM.Galung, Pematangsiantar adalah kota teraman dan ternyaman untuk pendidikan dan bertempat-tinggal. Image yang melekat pada kota ini adalah premanisme Siantar Men, yang hingga kini tak kunjung mampu dihapuskan zaman, meski kota ini –sebagaimana yang Gobatak kutip dari Siantar Man telah memberangkatkan putra-putrinya kurang lebih 400 orang untuk menimba ilmu di luar Sumatera. Bahkan, tak jarang, labeling ini masih melekat hingga saat ini, hingga orang-orang yang memperkenalkan dirinya sebagai orang Siantar, akan serta merta dicekoki dengan tatapan takut dan kata-kata tak sedap yang mencap Siantar sebagai gudang kriminalitas. In fact, Siantar sejauh ini adalah kota yang aman.

Kota kecil dengan posisi yang strategis ini, menjadi post antara Medan dengan Danau Toba, hingga tak heran, diidentikkan lekat dengan danau “Norwegia”-nya Indonesia. Seperti yang Gobatak kutip dari Wikipedia, kota yang merayakan ulang tahunnya setiap 24 April  ini memiliki setidaknya 8 hotel berbintang, 10 hotel melati dan 268 restoran sebagai penunjang keberadaannya sebagai lintasan pariwisata dan berada di Jalinsum. Kebersihan dan kelestarian lingkungan Siantar, telah membuktikan Siantar layak menjadi peraih Adipura. Keamanan lalu lintas Siantar membuktikan diri dengan menyabet Piala Wahana Tata Hugraha pada 1996.

Kota terbesar kedua di Sumatera Utara ini, menempatkan industri sebagai tulang punggung perekonomiannya, disusul sector perdagangan, hotel dan restoran di peringkat kedua.

Hal yang kita mesti tangkap adalah, kota yang katanya “sarang kriminil” ini, sejatinya adalah kota yang tertib yang mempunyai seabrek keunggulan yang orang terkadang tidak sadari. Jadi, tak perlu malu untuk mengakui keberadaan dan identitas Siantar sebagai kota asal, Siantar Men harus benar-benar menuntut orang luar untuk segera menghapus citra ‘kriminil’ dari jejak Pematangsiantar.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.