10 Orang Luka Akibat Rebutan Jambar Di Pesta Adat Batak

6
Ilustrasi Jambar

Sidikalang – Siapa sangka kejadian sangat memalukan terjadi di sebuah pesta pernikahan adat batak di desa Berampu Kecamatan Berampu Kabupaten Dairi pada Selasa (6/2/2012). 10 orang alami luka langsung dilarikan ke rumah sakit.

Kekisruhan yang teradi di lokasi berawal acara pembagian jambar dilakukan, pesta adat pernikahan Mustaman Lingga dan Andriani br Lumbangaol terancam gagal dilanjutkan. Adu mulut antara dua kubu Berampu, yang saling memperebutkan jambar yang diberikan Suhut (tuan rumah). Antara kelompok Berampu 1 dan Berampu 2 sama-sama saling berhak atas jambar tersebut.

Ilustrasi Jambar

 

Salah seorang saksi, Matanari warga sekitar yang hadir saat itu memaparkan bahwa kedua kelompok tersebut ribut rebutan jambar bahkan sampai teradi saling lempar batu. Seperti yang dikutip Gobatak.com dari Koran SIB, Rabu (7/3/2012), salah seorang korban Raten Berampu (62 tahun) mengatakan “Loh, saya ini tamu undangan tiba-tiba kena lempar batu”. Tamu undangan spontan berlarian dan menjahui lokasi kericuhan.

Atas laporan masyarakat kepada Petugas Polres Dairi langsung mendatangi lokasi kejadian dan mengamankan situasi. Sementara korban sebagian besar mengalami luka ringan kemudian dibawa ke rumah sakit guna mendapat menanganan medis.

Sementara penyebab kejadian sebenarnya masih dalam penyelidikan, sejumlah pihak-pihak korban serta saksi kejadian sejak Selala kemaren masih dalam pemeriksaan di Polres.

6 COMMENTS

    • orang2 bilang dasarnya uhum (hukum) koq suka2 perutnya aja, kitab hukumnya mana? inilah yg disebut hukum yg berlaku surut

  1. Ini menunjukkan turunnya pemahaman “halak hita” mengenai adat yang sebenarnya. Bila pesa diadakan maka yang mengundang adalah suhut bolon atau Rajani Hasuhuton, dan yang di undang adalah Undangan : Raja-raja, mulai dari Raja ni Hula hula, Tulang, Raja dongan sahuta, dan Raja yang lain. Ketika pembagian Jambar, Kalau para Raja Undangan paham akan posisinya, hal sepeti ini tidak akan terjadi lagi, katakanlah ada perselisihan pendapat dan pemahaman, tetapi karena semua Raja yang diundang, maka sifat utama “halak hita” adalah mengedepankan musawarah, sampai ada kata sepakat.
    Apabila tidak ada kata sepakat maka, kembali lah kita kejaman dahulu kala ketika nenek moyang kita juga melakukan hal yang sama ketika dilakukan “marbinda” masing masing ribut mengklaim diri paling pantas menerima bagian bagian tertentu : ITULAH ASAL MUASAL KENAPA ADA PEMBAgIAN JAMBAR, akhirnya harus diputuskan oleh Raja yang berkuasa ketika itu.

  2. Ada pepatah mengatakan “dimana bumi di pijak disitu langit di junjung” molo di halak batak hampir sama dengan “sidapot solup do na ro”. Artinya para undangan/yang diundang harus sadar bahwa apa yang diberikan/dapat dari suhut bolon (yang berpesta) hanya menerima saja, karena setahu saya tdk ada aturan yang jelas tentang adat ini, yang penting prinsipnya adalah bahwa adat yang kita laksanakan/jalankan akan kita terima di kemudian hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.