Asal Mula – Tungkot Tunggal Panaluan

2

Tungkot Tunggal Panaluan adalah salah satu seni dari suku Batak yang sudah terkenal diseluruh dunia, yang diukir menurut kejadian sebenarnya dari kayu tertentu yang juga memiliki kesaktian.

Inilah kisah singkat tentang asal mula Tungkot Tunggal Panaluan. Zaman dahulu di huta Sidogordogor Pangururan tinggallah keluarga yang sudah lama tidak mempunyai keturunan 7 tahun lamanya, Guru Hatahutan dan istrinya Nasindak Panaluan. Akhirnya keluarga inipun dikaruniai keturunan setelah selama 7 tahun penantian berdoa kepada Ompu Mula Jadi Na Bolon. Setalah 13 bulan lamanya mengandung lahirlah anak dari mereka Linduak (=kembar) laki-laki dan perempuan.

Kemudian diadakanlah pesta Martutu Aek (memberi nama) kepada kedua anak itu yang saat itu upacara atau pesta ini dipimpin oleh Agama Parbaringin. Setelah diadakan ritual untuk dalam acara Martutu Aek tersebut, dinamailah anak laki-laki Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu Siboru Tapi Nauasan. Penatua Huta atau tokoh masyarakat menganjurkan kedua anak tersebut agar dipisahkan agar dikemudian hari tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Hari, minggu dan tahunpun berlalu anak itupun tumbuh dewasa. Tanpa disadari oleh kedua orangtuanya kedua anak itupun timbul rasa saling mencintai dan sangat akrab sekali dan selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Suatu ketika mereka pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar bersama seekor anjing. Dikesunyian ditengah hutan tersebut tumbuhlah rasa cinta yang semakin bergejolak diantara mereka yang akhirnyapun mereka melakukan hubungan seksual. Setelah itu Siboru Tapi Nausan melihat bauh dari pohon Si Tua Manggule dan meminta saudara kembarnya Si Aji Donda Hatautan agar mereka makan. Si Aji Donda Hatautan memanjat pohon itu dan memakan buahnya, tiba-tiba saat itupun melekat pada pohon itu dan tidak bisa bergerak kemudian Siboru Tapi Nausanpun ikut memanjat pohon tersebut dan memkan buahnya akhirnya keduapun lengket dipohon tersebut. Merekapun berusaha untuk melepaskan diri dari pohon tersebut namun sia-sia. Anjing yang ikut bersama merekapun pulang ke huta untuk memberitahukan kejadian tersebut.

Akhirnya datanglah orangtuanya bersama dengan Datu (orang sakti) untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Guru Guta Balian bersama empat orang Datu yang lain merusaha untuk meleaskan anak kembar itu dari pohon itu, namun usaha merekapun sia-sia. Merekapun ikut melekat pada pohon Piupiu Tunggale tersebut dan meninggal pada pohon itu. Atas kejadian tersebut diukirlah patung tongkat untuk mengenang kejadian ini, inilah urutan yang melekat pada pohon tersebut pada ukiran Tongkat Tunggal Panaluan itu, Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbuselbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meoleol, Si Upar Manggalele, Barit Songkar Pangururan.

Mitos ini adalah sebagai bentuk pengajaran turun temurun buat suku Batak khususnya agar menghargai Tona/ saran orangtua. Menurut terjadinya tunggal Panaluan merupakan hukuman dari Dewa-dewi, karena kedua anak kembar tersebut melakukan hubungan badan yang tidak sepantasnya. Kedua anak tersebut melekat pada pohon yang sedang berbuah menandakan bahwa Siboru Tapi Nauasan telah mengandung dari kakaknya Si Aji Donda Hatautan.
(sumber: VCD Asal Mula Tungkot Tunggal Panaluan – oleh: Prof. M. Sorimangaraja Sitanggang sebagai penulis naskah & sutradara)

2 COMMENTS

  1. Raja Batak;673414495]Tunggal Panaluan
    Nama tunggal panaluan berarti dipersatukan untuk mengalahkan siapa saja dan dukun mana saja.

    Setelah tidak diketahui lagi bagaimana membuat tukkot sialagundi maka oleh beberapa mangaraja yang sudah memeluk agama parmalim meminta kepada para dukun turunan ilmu Mesir membuat satu tukkot yang dapat menyamai sialagundi. Untuk itu harus dibuat sembilan (SIA) kekuatan yang ada di dalam tukkot baru ini.

    Maka diculiklah 5 orang anak, dua orang perempuan dan tiga laki-laki, kemudian dibunuh serta digongseng seperti dalam proses pembuatan pangulubalang. Kemudian dimasukkan ke dalam lobang di kepala tunggal panaluan itu minyak hasil gongseng serta abunya.
    Setelah itu diambil dua ekor anjing jantan yang khusus dipelihara supaya ganas dan patuh, kemudian dibunuh dan digongseng. Lalu minyak dan abunya dimasukkan di lobang kepala tunggal panaluan itu.
    Lalu diambil seekor ular, dipelihara mulai kecil, kemudian dibunuh dan digongseng dan abu serta minyaknya diambil serta dimasukkan dalam kepala tukkot tunggal panaluan

    Malapetaka pun terjadi setelah 8 bahan ini dimasukkan kedalam tukkot tunggal panaluan ini.
    Menurut nasehat (poda) kedukunan, tidak boleh dicampurkan hewan dengan manusia walaupun dalam kedukunan apalagi dalam pangulubalang. Akan terjadi perkelahian roh di dalamnya dan akan jadi malapetaka.
    Benarlah, sebelum dapat dipastikan apa yang menjadi bahan yang kesembilan, pangulubalang di dalam tukkot tunggal panaluan itu telah memakan yang membuatnya dan mati seketika demikian juga nasib anak pembuat tukkot tunggal panaluan itu juga mati ketika melanjutkan ritual ini.

    Tidak pernah selesailah proses pembuatan pangulubalang tukkot tunggal panaluan ini sampai sekarang karena kurang bahan yang kesembilan dan tidak bisa menyamai kesaktian dari tukkot SiaLagundi.

    Semua dukun yang beraliran mesir dan mengetahui tentang ritual pangulubalang ini tahu bahwa tunggal panaluan adalah pangulubalang yang jadi simbol kejahatan, kesadisan, kanibalisme dan pembunuhan.

    Tukkot tunggal panaluhan dibuat sebagai alat pembunuh tetapi tidak pernah kesampaian.[/QUOTE]

Comments are closed.