Ratusan Boru Batak Terserang Virus Alay Di Facebook

2

Fenomena Alay. Sampai saat ini tidak ada definisi yang pasti tentang apa dan siapa itu alay. Alay merupakan kata yang tercipta di saat sekarang sehingga tidak akan ada di kamus besar bahasa Indonesia. Sebagian orang mendefinisikan Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak Layu, atau Anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Namun lagi-lagi secara pasti darimana asal kata alay itu. Alay muncul pertama kali dan disebarluaskan oleh salah satu forum di dunia maya.

Orang-orang menyebut alay pada orang-orang yang bertingkah laku norak yang kebanyakan adalah remaja kalangan menengah kebawah. Tingkah laku norak ini salah satunya adalah:

Mengetik dengan pemilihan huruf dan format yang tidak wajar, misalnya:

* Mengganti-ganti huruf dengan karakter lain misalnya, huruf “i” diganti dengan “1? atau “!”, huruf “e” diganti “3? dan sebagainya.
* Menggunakan huruf besar kecil, yang acak, gak sesuai dengan EYD yang benar, misalnya “nAMa sAyA bLa bla bLa….”
* Mengganti huruf dengan huruf lain agar terlihat lebih imut, misalnya “sayang” menjadi “cayaank”, “maaf” menjadi “muuph”, dan sebagainya.
* Menulis dengan bahasa inggris tapi dengan ejaan yang sudah dimodifikasi supaya lebih imut. misalnya “love” menjadi “loppphh”, dan sebagainya.

Fenomena Alay pun sangat cepat menyebar melalui situs jejaring social berkelas Facebook. Penyebaran itupun sudah masuk kedalaman tatanan komunitas khususnya Orang Batak. Virus Alay begitu dasyat serang Orang Batak khususnya Boru Batak.

Gobatak.com mencoba melakukan riset lebih kurang satu minggu dan mengumpulkan ratusan ID pada list Fans Page Gobatak. Dan hasilnya kebanyakan mereka-mereka yang terserang virus alay itu adalah perempuan atau Boru Batak dengan diantara usia remaja dan dewasa yang menuliskan marga dengan mengetik dan memilih huruf dengan format yang tidak wajar.

Berikut fenomena penulisan Marga Batak yang terserang virus Alay di jagad sosial online Facebook:

Shetwomorank, MaNic, Zinoerat, Turniep, Mhanick, S’moraQir, Zhedabhoetar, Sheallagan, Shitumorang, Cinagae, ChagaLa, Cii Rait, She Tompoel, C Tomful, Chidabutar, Shijhabat, SheNaga, Ciie Hotangzz, Mhalaoezt, Cinoeratz, Zhenaga, Punkgabean, Sheombing, Chedaboetar, Shetoruz, Shetwomorank, Cyzabath, Zhedabhoetar, Cinagae, Sci Daboetar, Ximbholon, Cie Allagan, chehalohoo, Cytoruz, Chetoank, Zimbolone, dan masih banyak lagi.

Sudah tentu penulisan marga diatas tidak sesuai lagi dengan makna sebenarnya. Selain memudarkan makna yang sebenarnya cara penulisan alay seperti ini hanya memiliki segi negatif, membuat orang yang membaca “sakit mata”, dan harus berjuang ekstra keras hanya untuk memahami bacaannya, serta menyita waktu untuk mengejanya.

Marga bagi orang Batak adalah nama persekutuan dari orang-orang bersaudara, sedarah, seketurunan menurut garis bapak (pria, laki-laki). Misalnya saja: Jegez Sidabutar. Jegez adalah nama kecil yang mewakili personal nama pribadi, sedangkan untuk sebutan Sidabutar adalah nama warisan yang wajib diterima semasa ia masih dalam kandungan ibunya, yaitu nama kesatuan atau persekutuan keluarga besar Sidabutar yang selanjutnya akan diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus.

Marga yang diwariskan oleh lelulur orang Batak sejak dulu adalah bertujuan membina kekompakan dan solidaritas sesama anggota marga sebagai keturunan dari satu leluhur. Walau pun keturunan suatu leluhur pada suatu ketika mungkin akan terbagi atas marga-marga cabang, namun sebagai keluarga besar, marga-marga cabang tersebut akan selalu mengingat kesatuannya dalam marga pokoknya. Dengan adanya keutuhan marga, maka kehidupan sistem kekerabatan Dalihan Natolu akan tetap lestari.

Selain hanya akan merusak tatanan bahasa Indonesia nantinya juga akan mewariskan kesalahan bagi anak cucu kita jika tetap dipertahankan. Oh ya, jika virus alay tetap bertahan sampai kapanpun pencarian teman sejawad, teman sekola, saudara dan teman sekampung tidak akan pernah dikenali oleh Fhes buQ!

2 COMMENTS

  1. hahaha…artikelnya na lucuan (maafkan bahasa batakku yang “berpasir-pasir’ (Nasib cucu yang bandel gak mau diajarin opung boru belajar bahasa batak) :P.

    Horas Gobatak!

    Madabu lope ahu bah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.