Prototype Biogas Gobatak, Berhasil

2

Teknologi biogas memang bukan hal baru. Telah sejak beberapa tahun silam, teknologi ini sudah coba dipopulerkan dan dimasyarakatkan. Dan sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu dan memahami manfaat apa yang bisa didapatkan dari teknologi biogas ini. Seperti kita tahu, selain sebagai solusi penghematan biaya terhadap kebutuhan bahan bakar rumah tangga, teknologi ini juga ikut memberi kontribusi positif terhadap lingkungan.

Pertama, dapat menekan jumlah konsumsi bahan bakar minyak dan gas, dan mengurangi ketergantungan kita terhadap jenis bahan bakar tersebut. Kedua, memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan (fermentasi) bahan organik (bukan hanya kotoran ternak saja) yang lepas secara bebas ke udara (perlu kita ketahui bahwa dalam proses pemanasan global, metana mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak dibanding karbondioksida). Disamping beberapa manfaat baik lainnya.

Untuk itu, Gobatak coba membuat sebuah prototype biogas skala kecil, dengan tujuan dapat semakin memasyarakatkan teknologi ini. Dan telah berlalu selama 3 minggu sejak prototype biogas sederhana ini mulai diuji coba oleh Gobatak. Dengan memanfaatkan galon air mineral bekas bervolume 19 liter sebagai digesternya, prototype ini diuji dengan menggunakan bahan sejumlah 13 liter.

Dari pengamatan Gobatak selama masa pengujian, gas metana yang dihasilkan melalui proses fermentasi oleh bakteri anaerobik di dalam digester tidak mutlak membutuhkan waktu selama 3 minggu. Dibuktikan, dalam kurun waktu 24 jam setelah bahan dimasukkan ke dalam digester yang telah terisolasi, mulai terjadi proses produksi gas metana. Hal ini ditandai dengan terjadinya perbedaan ketinggian pada kolom air dari manometer air sederhana yang dihubungkan menggunakan selang ke digester.

Namun, karena keterbatasan alat ukur dalam uji coba prototype biogas ini, Gobatak belum dapat melakukan perhitungan secara detail seputar jumlah produksi biogas, baik jumlah produksi gas metana per satuan massa bahan maupun jumlah produksi gas metana per satuan waktu. Dan dalam hal ini, manometer air sederhana yang Gobatak gunakan dalam uji coba prototype ini hanyalah sebagai indikator tentang keberadaan gas metana dalam reaktor.

Dalam beberapa kali uji, Gobatak juga berhasil melakukan penyalaan gas metana yang diproduksi dari digester. Dengan mendapati nyala lidah api berwarna biru, prototype biogas skala kecil ini berhasil walau secara keseluruhannya dilakukan dengan sederhana.

Lihat Videonya :

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.