Penyanyi Batak Berbakat Dari Sidikalang

2
Penyanyi Batak Berbakat

Seorang penyanyi dan sekaligus pemuda Batak asal Sidikalang menuturkan dibalik kisahnya tentang Siboan Goar, Frans Manurung:

“Saya sangat cinta kampung halamanku, Sopobutar, Sidikalang. Dan saya ingin membawa nama keluarga dan daerahku di dalam perjalananku”, itulah yang mengilhami sekaligus memotivasi saya untuk meluncurkan album perdana saya “SIBOAN GOAR”.

Sebenarnya ini dimulai dari niat saja. Menyanyi hanyalah sekedar hobi yang diturunkan sedikit dari darah Ibu. Walaupun sesekali terbersit dalam pikiran untuk menjadi seorang penyanyi suatu saat. Tapi dengan kesibukan sekolah dan kuliah, keinginan itu akhirnya berangsur-angsur tenggelam.

Saya lahir tanggal 29 April 1983 tepatnya di desa Sopobutar. Saya bangga terlahir sebagai seorang suku batak bermarga Manurung. Orangtua saya, M. Manurung (Bapak) dan R. br. Marpaung (Ibu) menghabiskan waktu bersama-sama dengan saya selama 13 tahun. Nama lengkap saya adalah Mangasi Leo Fransigo Manurung.

Saya sudah mulai merasakan enaknya merantau sejak saya berumur 13 tahun sampai sekarang ini karena sudah terpisah dari orang tua. Saya menyelesaikan pendidikan SMP di Sekolah Katolik ST. PAULUS, Sidikalang, dan SMA Negeri 1 Sidikalang. Hal itu akhirnya membentuk saya menjadi seorang pribadi yang sangat mandiri dan terus bermimpi ingin memberi yang terbaik  bagi orang tua dan keluarga.

Saya tidak hanya bermimpi, tapi juga berusaha dan bekerja keras. Karena buat saya, impian hanya sekedar impian kalau tidak ada usaha dan kerja keras yang dibarengi dengan doa. Saya begitu senang karena prestasi di sekolah saya betul-betul mendukung impian saya.

Sampai pada suatu saat, pada tahun 2004, saya mengikuti suatu ajang pencari bakat yang cukup besar di Indonesia, Indonesian Idol 2004. Saat itu, saya mewakili audisi daerah Medan. Dan sangat bangga menjadi duta Medan yang akan berangkat ke Jakarta. Tetapi impian itu akhirnya sirna ketika saya harus bersaing dengan peserta-peserta yang lain yang lebih beruntung. Saya gagal pada 75 besar seluruh Indonesia di Jakarta. Saya sangat terpukul saat itu. Harapan saya hilang.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kuliah ke Surabaya, Universitas Airlangga, Jurusan S1 Manajemen. Tiga tahun saya menyelesaikan kuliah saya, dan mulai sibuk mencari kerja, dan akhirnya bekerja. Di Surabaya saya kembali aktif dalam berbagai kegiatan kekristenan, koor, vocal group dan pemimpin lagu di salah satu gereja. Bertemu dengan orang-orang yang lebih tahu tentang musik sekaligus musisi dari daerah lain, adalah hal yang sangat berharga buat saya karena bisa mendapatkan ilmu dari mereka. Salah satunya adalah Wilmar Goeslaw saudara sepupu Melly Goeslaw. Beliau musisi dari daerah ambon yang sudah memiliki ‘nama’ di sana. Sampai pada akhirnya saya coba menulis beberapa lagu rohani, dan lagu daerah. Sesekali kita diundang bersama-sama untuk mengisi beberapa acara pernikahan dan adat di Surabaya.

Bakat saya di dunia seni mulai kelihatan lebih matang, sampai saya terjun ke dunia MC (Master of Ceremony) pada beberapa acara pernikahan di Surabaya. Pada Februari 2011, bermodal nekat, saya mencoba untuk membuat album perdana. Yang saya beri judul “SIBOAN GOAR”.

 

Satu hal yang sangat mengilhami pembuatan album ini adalah, bahwa saya ingin menunjukkan kepada keluarga terutama pada Bapak saya, yang selalu berharap kepada saya, bahwa saya bisa menjadi kebanggan bagi keluarga. Saya adalah satu-satunya anak yang pendidikannya sampai pendidikan Sarjana. Bagi keluarga Batak, itu sangatlah luar biasa, dan seharusnya saya bisa membantu keluarga dan membahagiakan mereka. Walaupun sebenarnya kebahagiaan mereka tidak bisa saya berikan sebab kebahagiaan itu tidak bisa diukur dengan apapun.

Ada harapan-harapan keluarga yang tidak sesuai dengan keinginan mereka karena saya memilih jalan saya sendiri. Salah satunya adalah bahwa saya tidak bisa masuk ke PNS. Semua orang pasti mau menjadi kebanggaan bagi keluarga. Tetapi tidak selamanya harus persis seperti apa yang diinginkan keluarga. Kita bisa juga menjadi kebanggaan keluarga dengan cara yang lain, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan selalu disertai rasa syukur. Saat ini dengan gelar saya SE, dan harus berwiraswasta, bagi sebagian orang itu bodoh. Kenapa kok tidak bisa jadi PNS? Mungkin itu yang sering saya dengar.

Untuk itu, saya ingin mengatakan bahwa saya bisa menjadi kebanggaan keluarga dengan jalan yang saya tempuh sekarang, sebagai wiraswasta (bisnis kursus bahasa Inggris). Saya mau mereka mengerti jalan yang sudah saya tempuh, dan menerimaku apa adanya. Mengharapkan doa mereka, supaya dengan jalan ini, saya bisa menjadi kebanggaan dan MEMBAWA NAMA.
Semua lagu-lagu dalam album ini adalah ciptaan saya sendiri. Kecuali lagu Arta dohot Holong – cipt Wilmar Goeslaw. Musik diarrange oleh Wilmar Goeslaw yang sekaligus adik ipar saya sendiri. Dengan modal sendiri dan produksi sendiri (Frans Production), maka album inipun tercipta. Warna musik dan lagu serta lirik dalam album ini saya buat dengan khas yang baru, yang tidak menyerupai lagu-lagu batak yang lain, supaya warna nya baru. Tema dan cerita yang saya angkat dalam lirik lagu pun betul-betul original.

Kita mengerjakannya dengan perjuangan sendiri. Biaya yang kita keluarkan dalam album ini tidak terlalu besar, karena Saya juga melibatkan teman-teman dekat, mulai dari shooting dan model. Edit video dan cover saya lakukan sendiri. Sekarang ini saya sedang mempersiapkan album perdana saya untuk nuansa Rohani. Saya akan terus bernyanyi dan menciptakan karya yang lebih besar lagi untuk daerahku dan negeriku. Dan saya berharapa, karya-karya saya bisa diterima oleh semua orang.
HORAS, HORAS, HORAS.

2 COMMENTS

  1. pak manurung..
    saya bercita cita ingin jadi penyanyi batak.
    pak manurung boleh gak bantu saya ?
    bagaimana cara nya pak.?
    trimaksih..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.