Penutupan Jong Bataks Arts Festival Dimeriahkan Mossak dan Ndikar

1

Penutupan Jong Bataks Arts Festval 2014,  1 November, dimeriahkan dengan pertunjukan mossak dan ndikkar. Mossak adalah olahraga beladiri dari Batak Toba sedangkan ndikar adalah beladiri dari Karo. Pertunjukan ini ditampilkan oleh KMK St. Martinus Unimed, yang dipadu dengan tarian dari Pakpak dan paduan suara. Para undangan yang memadati Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara, menyambuat antusias pagelaran ini. Apalagi  beladiri mossak dan ndikar sekarang ini, termasuk salah satu budaya yang semakin langka.

Kemeriahan malam penutupan semakin lengkap dengan penampilan Sanggar Seni Jolo dari Samosir. Sanggar seni ini menampilkan dua reportoar tari dan satu permainan tradisional Batak Toba di masa lalu. Masing-masing tor-tor “Siburuk” yang mengisahkan tentang seekor burung (burung siburuk-sebangsa ayam-ayaman) yang merawat anaknya yang terluka. Dengan dilumuri dedauan anak buruk tersebut akhirnya sembuh. Sejak itu, masyarakat yang mengamati peristiwa itu, mengadopsi daun-daunan yang dipakai burung itu, menjadi bahan dasar obat patah tulang Itulah cerita asal muasal minyak kusuk “Siburuk” yang populer bagi orang Batak Toba.

Reportoar kedua adalah tortor “Sipitu Cawan”. Menariknya, tor-tor ini dibawakan oleh anak-anak sekolah dasar. Mereka menari sambil menjaga keseimbangan 7 cawan yang ditaruh di kepala, bahu, siku tangan, telapak tangan. Terakhir, Sanggar Seni Jolo pimpinan Fery Sagala ini, mementaskan “Martumba” yakni permainan tradisional Batak Toba di masa lalu.

Pertunjukan Sanggar Seni Jolo ini, menjadi primadona di acara penutupan Jong Bataks Arts Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia (RKI) bersama lebih dari 30 kelompok seni yang tersebar di nusantara ini. Apresiasi kepada Sanggar Seni Jolo, bukan berlebihan. Selain menari, anak-anak yang usianya rata-rata berada di bangku skolah dasar itu, juga terampil memaiknan alat musik gondang. Tidak heran, jika sehabis pertunjukannya, para penonton secara spontan langsung memberi standing aplaus.  Turut tampil di acara penutupan adalah Hendra Ginting, Simalem Art, Mouth Percussion, Rep Foundation, Beat Box, Manuela Pasaribu.

Salah seorang warga Medan, Yoseptien, mengaku salut dengan kegiatan yang dilakukan pemuda-pemuda Batak ini. Ia bangga karena semangat pemuda terhadap seni dan budayanya masih cukup tinggi.

“Sebagai masyarakat, saya mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara, karena melalui event ini, saya telah disadarkan kembali betapa kayanya bangsa ini. Salut kepada orang-orang muda yang berani membuat even selama seminggu ini,” aku warga asal Flores ini.

Mewakili manajemen produksi RKI, Ojak Manalu menjelaskan, sampai 2 hari menjelang dimulainya Jong Bataks Ars Festival, kelompok-kelompok seni dari berbagai daerah terus berdatangan untuk ikut mengisi perhelatan seni dan budaya ini. Total pengisi acara sampai hari terkahir berjumlah 520 orang.

“Bagi kami ini sangat luar biasa. Kami tidak menyangka respon dari masyarakat cukup tinggi untuk acara ini. Ini menjadi utang kami, untuk tetap bisa menggelar kegiatan ini setiap tahun,” jelas Ojak.

Dalam kesempatan itu, RKI juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dianggap berkontribusi terhadap seni dan budaya di Sumatera Utara, khususnya dalam mempersiapkan kegiatan Jong Bataks Arts Festival. Juga diberikan penghargaan berupa uang pembinaan dan piagam kepada para pemenang lomba vokal solo dan tari yang ikut memeriahkan Jong Bataks Arts Festival.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.