MANDAILING: Di-Batak-kan Belanda?

1

Beredar rumor, bahwasanya Mandailing bukan merupakan bagian dari Batak. Salah seorang teman saya, yang notabene adalah orang Mandailing, menolak untuk dikatakan Batak. Lantas, bagaimana dengan kesamaan unsure yang ada antara Batak dengan Mandailing? Bagaimana dengan Dalihan Na Tolu yang ternyata berlaku juga di tengah masyarakat Mandailing. Kalau mereka bukan Batak, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan Kitab Negarakertagama, tertulis bahwa Mandailing bukan Batak. Memang, hal ini tidak dituliskan secara langsung. Namun, berdasarkan kitab tertua yang ada di Indonesia yang keberadaannya telah diakui di deluruh dunia itu, pada saat itu, ketika kitab itu dituliskan, belum ada sama sekali kata “Batak” yang merujuk pada sekumpulan orang yang memiliki kesamaan nenek moyang, asal usul atau kebudayaan.

Dalam kitab tersebut Mpu Prapanca mencatat banyak hal tentang Majapahit, termasuk negara yang ditaklukkannya. Disebutkan bahwa Melayu adalah belahan timur Sumatera, yang meliputi Mandailing, Pane, Toba, Barus dan lain-lain.Sebagaimana yang Gobatak kutip dari Dua Kota Pasaman, dikatakan bahwa sekitar tahun 1365 M, terjadi perbedaan mencolok yang membuktikan bahwasanya Mandailing bukan bagian Batak. Dikatakan bahwa pada saat itu, sementara kanibalisme masih berlaku di pedalaman Sumatera, termasuk sebagaimana yang berlaku di daerah Batak Toba, di daerah Mandailing sendiri sudah didirikan candi.

Lantas, bagaimana Mandailing disebut-sebut sebagai bagian dari Batak, adalah disebabkan oleh pandangan Belanda yang ‘membatakkan’ Mandailing. Saat itu, Belanda melihat Mandailing sebagai Batak, berdasarkan persepsi Melayu, dimana kesultanan-kesultanan Melayu telah terlebih dahulu terlibat interaksi dengan Belanda. Selanjutnya, persepsi demikian tetap berlanjut hingga akhirnya sebagian besar orang Mandailing melihat diri mereka sebagai salah satu bagian dari keutuhan Batak.

Seorang sarjana Barat, Lance Castles, malah mendata Toba, Mandailing dan Simalungun sebagai bagian dari Batak. Beliau mengatakan bahwa pengelompokan itu diakibatkan adanya kesamaan elemen yang terdapat di antara ketiga suku ini. Namun, Mandailing Islam, telah mencoba sedaya upaya untuk melepaaskan diri dari anggapan sebagai bagian dari Batak.

Dapat dilihat dengan jelas, bahwa Mandailing, bukan menyerah untuk masuk ke dalam golongan Batak. Mereka hanya merupakan korban dari penyesatan sejarah, sebagaimana yang Susan Rogers katakan, Pembagian ke dalam beberapa kelompok-kelompok etnik ini, menyesatkan, lantaran penduduk desa umum tidak banyak menggunakan perkataan seperti ‘Angkola’ dan mengidentifikasikan diri mereka dalam istilah yang lebih lokal sebagai ‘anggota dari perhimpunan adat’ atau sebuah kelompok perkampungan.

Mandailing memang controversial dalam hal ini. Siapa kira ternyata suku ini ‘diMelayukan’ juga?

1 COMMENT

  1. Akibat nya Perang Padri, menjadi traumama on di Halak Mandailing.Ratusan ribu halak hita harus mati kalau tidak mengikuti ajaran Islam, lain lagi yang kena penyakit Kolera. Dengan demikian mereka harus masuk Islam dan sebagian lari ke Malasya, akhirnya masuk Islam juga. Tentang Budaya, bisa saja dilihat dari Rumah Adat dan Gondangnya. Di Toba 5 Gondangna di Mandailing 9 gondangna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.