Kelompok Tani Peduli Desa Gopgopan Mengikuti Pelatihan Identifikasi Keaneka Ragaman Hayati

1

Lumbanjulu ( 10/4) – Kelompok tani peduli Sub DAS Gopgopan mengikuti pelatihan identifikasi Keaneka ragaman hayati. Lokasi yang diidentifikasi di plot di Lumban rang. Pelatihan tersebut difasilitasi SCBFWM (Strengthening Community Based Watersheet Management) region Sumut diikuti 15 kelompok tani yang tersebar di Kecamatan Lumbanjulu, Kecamatan Bona Tua Lunasi, Kecamatan Uluan, Kecamatan Porsea, Kabupaten Tobasa.

Program pemberdayaan masyarakat di daerah aliran sungai Sub DAS Gopgopan ini sudah berjalan tiga tahun. Pengendalian hutan dan daerah aliran sungai dibutuhkan waktu yang panjang termasuk dalam hal penyadaran masyarakat.


Foto: Rosmelina Sinaga

Kondisi lahan pertanian mengalami krisis. Tanah tidak menghasilkan buah yang maksimal jika tidak dipupuk dengan kimia. Pemahaman tersebut membuat petani bertani dengan biaya yang tinggi.

Pelatihan identifikasi keaneka ragaman hayati hari ini, membuat petani harus mengernyitkan kening karna banyak sekali jenis rumput yang tidak mereka kenal.
Narasumber dari Fakultas pertanian Universitas Pertanian mengatakan bahwa tumbuhan baru itu berasal dari pupuk buatan dan pupuk kompos yang dibawa petani dari luar daerah.

Ketua kelompok tani Harapan desa Hatinggian Kecamatan Lumbanjulu mengatakan, dulu tidak ada rumput yang begini, sekarang sudah banyak, kami tidak tahu dari mana sumbernya.Tapi setelah mendapat pelatihan identifikasi keaneka ragaman hayati ini, kami akan membuat bibit kami sendiri di desa dan mengembangkan rumah kompos yang kami punya, terang Serti Butar-butar.

Ibu Surtiani Sitohang kepala Desa Jangga Dolok Kecamatan Lumbanjulu mengucapkan terima kasih atas program yang dilaksanakan oleh SCBFWM, karena program ini membuka wawasan masyarakat di desa kami. Tahun 2011 warga masyarakat menanam coklat dan sekarang sudah menikmati panen perdana. Dengan adanya tanaman coklat di lahan kering, masyarakat sudah mulai mengandangkan ternaknya masing-masing.

Region Fasilitator SCBFWM- Sumut Khairul Rizal mengatakan dalam pelatihan ini, semoga pelatihan identifikasi keaneka ragaman hayati dapat menambah pengetahuan masyarakat untuk menjaga lingkungan. Meminimalisir penggunaan pupuk kimia untuk mengurangi pengeluaran masyarakat. Dengan mengenal tanaman rumput-rumputan yang dikenal bisa menjadi obat-obatan tidak segera membasmi memakai pestisida kimia. Karena sisa kimia tersebut akan mencemari air yang akan diminum masyarakat. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka hutan dan daerah aliran sungai sub Das Gopgopan yang sudah kritis akan menjadi sumber bencana. Untuk itu mari menanam pohon dan jangan membunuh flora dan fauna dengan secara instan tetapi silahkan membasminya dengan herbisida dan pestisida yang ada disekitar kita.

Dikirim & Ditulis: Rosmelina Sinaga

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here