Home Breaking News Gorga Batak, Warisan Seni dan Daya Tarik Wisata

Gorga Batak, Warisan Seni dan Daya Tarik Wisata

0 10,868 views
gorga batak

Pariwisata saat ini menjadi andalan pemerintah sebagai sumber penerimaan devisa negara terbesar. Ini disebabkan oleh pengelolaan pariwisata yang hanya mengeksploitasi keindahan alam suatu daerah atau keanekaragaman budaya pada daerah tersebut tanpa harus mengambil/mengurangi sesuatu dari alam. Memperhatikan hal tersebut, perlu dilakukan pemanfaatan dan pengembangan potensi pariwisata di masing-masing daerah untuk meningkatkan daya tarik terhadap wisatawan, baik asing maupun domestik.

Seperti dijelaskan di atas, selain daripada keindahan alam, keanekaragaman budaya merupakan potensi yang tidak bisa dilupakan untuk dijadikan daya tarik wisata. Apalagi bila dikaitkan dengan keanekaragaman budaya yang terdapat di negeri Indonesia yang kita cintai ini, sungguh merupakan suatu anugerah yang harus senantiasa disyukuri. Namun, tidak cukup hanya bersyukur dalam perkataan, dibutuhkan aksi untuk mengembangkan potensi ini.

Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di bagian barat ini memiliki potensi pariwisata yang besar dalam mendukung peningkatan penerimaan devisa negara. Provinsi yang terdiri dari 25 Kabupaten dan 8 Kota ini memiliki keindahan alam dan budaya yang beranekaragam. Keindahan Danau Toba yang terdapat di provinsi ini dilengkapi dengan keanekaragaman budaya di sekitarnya menjadi daya tarik tersendiri terhadap pariwisata Sumatera Utara. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan untuk meningkatkan daya tarik tersebut. Danau Toba yang hingga sekarang masih menyimpan banyak kekayaan alam dan budaya akan senantiasa menjadi daerah tujuan wisata idaman para wisatawan. Mengingat hal itu, perlu dilakukan pengembangan terutama dari potensi kebudayaan yang diharapkan meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Danau Toba.

Bila berbicara mengenai kekayaan budaya di daerah sekitar Danau Toba belakangan ini, harus disadari bahwa pluralisme sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Asimilasi budaya tidak menjadi tabu bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan wisata ini. Hal ini tentunya menjadi nilai yang positif untuk memperkaya kebudayaan dan juga merangsang kesadaran masyarakat akan derasnya arus globalisasi yang tidak bisa dibendung. Percampuran kebudayaan tersebut terproyeksikan dalam seni musik, tari, arsitektur, pakaian adat dan sebagainya.

Namun, harus disadari juga bahwa nilai-nilai luhur suatu kebudayaan tetap harus dilestarikan. Seluruh komponen masyarakat maupun pemerintah harus menyadari bahwa ada ciri khas tertentu dari kebudayaan masyarakat terutama masyarakat asli di daerah sekitar Danau Toba. Tidak boleh dipungkiri bahwa kebudayaan asli adalah ciri tersendiri yang tidak bisa hilang dari masyarakat tersebut. Melihat keadaan tersebut, harus diupayakan untuk tetap melestarikan kebudayaan asli sehingga nantinya dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Etnis Batak  dianggap menjadi etnis asli yang telah lama hidup di daerah sekitar Danau Toba. Etnis ini telah tersebar ke beberapa penjuru daerah Sumatera Utara yang kemudian terbagi menjadi beberapa sub-etnis diantaranya adalah Toba, Pakpak, Simalungun, Karo, Mandailing, dan Angkola. Asal mula etnis ini berasal dari mitos Si Raja Batak yang lahir melalui Siboru Deak Parujar di Sianjur Mula-mula, di daerah Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir). Si Raja Batak mempunyai dua orang anak, yaitu Lontung dan Isumbaon (Sumba) yang merupakan moyang dari dua kelompok marga terbesar dalam silsilah Batak. Sianjur Mula-Mula inilah dianggap sebagai awal persebaran bangsa Batak, sering disebut Bona Pasogit.

Dari sepintas sejarah mengenai etnis Batak di atas, tidak bisa disangkal lagi bahwa keberadaan tersebut merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan. Yang harus diperhatikan juga adalah kebudayaan yang diwariskan hingga saat ini. Warisan ini tercermin dalam bahasa, adat-istiadat, kesenian, dan sebagainya. Semuanya itu dapat menjadi daya tarik wisata yang mengundang wisatawan berkunjung ke Danau Toba. Pelestarian budaya ini menjadi tanggung jawab semua masyarakat, namun porsinya tidak seragam. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari pemerintah yang merupakan roda penggerak dalam mengembangkan kepariwisataan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dalam melakukan pelestarian budaya tersebut, perlu dilakukan pemusatan ataupun konsentrasi terhadap potensi yang akan dikembangkan. Mengingat luasnya unsur-unsur kebudayaan tersebut, dapat dilakukan prioritas pengembangan. Dalam hal ini, penulis tertarik untuk mengajak banyak pihak untuk mengembangkan gorga Batak sebagai salah satu unsur budaya yang merupakan seni rupa orang Batak pada masa lampau terutama dalam ukir-ukiran dan menghias eksterior rumah (jabu, ruma bolon).

gorga batak

gorga batak

 

Gorga Batak adalah kesenian ukir ataupun pahat yang biasanya terdapat pada bagian luar (eksterior) rumah adat Batak dan alat kesenian (gendang, serunai, kecapi). Gorga dapat disebut sebagai corak atau motif yang tidak hanya dipahat/diukir tapi juga dilukis. Gorga ini pada umumnya terdiri dari tiga warna, yaitu merah, hitam dan putih. Gorga diklasifikasikan dalam berbagai jenis yang berkaitan dengan bentuk dan maknanya.  Jenis-jenis gorga*) tersebut adalah :

1.    Gorga Sitompi
Sitompi berasal dari kata “tompi” yang merupakan sejenis alat untuk mengikatkan leher kerbau pada bajak ketika membajak sawah. Alat ini terbuat dari rotan yang dianyam, sehingga dilihat dari gerakan anyaman tersebut menjadi landasan dibuat gorga sitompi ini. Gorga ini bermakna sebagai lambang ikatan kebudayaan.

2.    Gorga Ipon-Ipon
Gorga Ipon-ipon ini merupakan hiasan tepi yang menambah indah dan kuatnya komposisi gorga. Gorga ini biasanya berbentuk geometris dengan salah satu bentuknya adalah setengah lingkaran yang berlapis menyerupai embun sehingga disebut “ombun marhehe”. Ombun marhehe ini dianggap sebagai lambang kemajuan.

3.    Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin)
Gorga ini menggambarkan arah mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Mata angin ini digunakan sebagai simbol yang dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas ritual, musim bertani, musim menangkap ikan dan sebagainya. Gorga ini biasanya diletakkan di sudut kiri dan kanan rumah.

4.    Gorga Simataniari (Matahari)
Gorga Simataniari ini berbentuk bintang delapan yang mirip dengan Gorga Desa Naualu. Mataniari (matahari) dianggap sebagai sumber kekuatan hidup dan penentu jalan kehidupan dunia. Gorga Simataniari ini juga sering disebut “purba manusia”.

5.    Gorga Simarogung-ogung
Ogung berarti gong yang merupakan salah satu alat musik pukul. Gorga Simarogung-ogung memiliki bentuk seperti gong tersebut. Gong dianggap sebagai simbol pesta yang merupakan ungkapan kegembiraan. Gorga ini juga melambangkan kejayaan dan kemakmuran, sehingga rumah orang yang dihiasi Gorga Simarogung-ogung ini merupakan orang kaya yang pengasih dan pemurah (parbahul-bahul na bolon).

6.    Gorga Singa-singa
Singa-singa berarti berwibawa, berkharisma. Gorga singa-singa ini terdiri dari wajah manusia dengan lidah yang terjulur ke luar hampir mencapai dagu. Kepala dihiasi dengan kain tiga bolit dan sikap kaki yang berlutut persis di bawah kepala tersebut.

7.    Gorga Jorngom atau Jenggar
Jorngom atau Jenggar mirip dengan hiasan-hiasan yang terdapat di candi. Jorngom atau Jenggar ini berbentuk raksasa yang biasa terdapat pada bagian tengah tomboman adop-adop dan halang gordang  dan sanggup melawan segala jenis setan. Gorga Jorngom atau Jenggar ini merupakan simbol penjaga keamanan.

8.    Gorga Boraspati (Cicak)
Gorga boraspati, sering juga disebut bujonggir merupakan gambar cicak yang ekornya bercabang dua. Cicak tersebut sering memberikan tanda-tanda tertentu melalui tingkah laku dan suaranya yang bisa membantu manusia terhindar dari bahaya ataupun memperoleh kekayaan. Oleh karena itu, gorga boraspati ini menjadi simbol pelindung manusia.

9.    Gorga Adop-adop
Adop-adop berarti susu atau payudara yang melambangkan kesuburan dan kekayaan. Gorga adop-adop ini biasanya dirangkaikan dengan gorga boraspati di mana terdapat empat payudara di kiri dan di kanan dari gorga boraspati tersebut. Gorga adop-adop inipun dapat dirangkaikan dengan gorga gaja dompak. Rangkaian gorga tersebut menjadi lambang hamoraon, hagabeon, dan hasangapon yang merupakan idaman setiap orang.

10.    Gorga Gaja Dompak
Gorga gaja dompak ini berbentuk seperti jenggar yang terletak di ujung dila paung. Gorga gaja dompak adalah simbol kebenaran bagi orang Batak, yaitu hukum yang bersumber dari Debata Mulajadi Nabolon.

11.    Gorga Dalihan Natolu
Gorga Dalihan Natolu ini berbentuk jalinan sulur yang saling terikat. Hal ini melambangkan falsafah Dalihan Natolu yang merupakan falsafah hidup orang Batak dalam menjalin hubungan dengan sesama. Gorga Dalihan Natolu ini biasanya terdapat di dorpijolo (dinding depan).

12.    Gorga Simeoleol
Simeoleol berarti melenggak-lenggok. Gorga Simeoleol ini berbentuk sulur yang terjalin dengan kesan melenggak-lenggok yang menghasilkan keindahan. Gorga ini melambangkan kegembiraan dan berfungsi untuk menambah keindahan. Variasi lain dari gorga ini disebut Gorga Simeoleol Marsialoan, yang bentuknya tidak jauh berbeda hanya karena motif yang berlawanan (marsialoan).

13.    Gorga Sitagan
Tagan berarti kotak kecil untuk menyimpan sirih, rokok, atau benda-benda kecil lainnya. Gorga Sitagan ini berbentuk simetris seperti tutup kotak dan kotak yang ditutup pada tagan tersebut. Gorga Sitagan ini bermakna nasihat agar menghilangkan rasa sombong terutama ketika menerima tamu.

14.    Gorga Sijonggi
Jonggi diartikan sebagai lambang kejantanan, keperkasaan. Gorga Sijonggi ini melambangkan keperkasaan yang harus dihormati.

15.    Gorga Silintong
Silintong berarti pusaran air yang dianggap memiliki kesaktian. Gorga Silintong ini melambangkan kesaktian yang bisa melindungi manusia dari segala bala. Gorga Silintong ini biasanya terdapat di rumah orang-orang yang dianggap berilmu tinggi (datu, raja, guru, dan sebagainya).

16.    Gorga Iran-iran
Iran adalah sejenis bahan perias muka manusia agar kelihatan lebih cantik. Gorga Iran-iran ini dianggap sebagai simbol kecantikan.

17.    Gorga Hariara Sundung di Langit
Gorga Hariara Sundung di Langit ini berbentuk seperti pohon hayat di Sumatera Selatan ataupun gunungan pada suku Jawa. Gorga Hariara Sundung di Langit ini  merupakan ilustrasi penciptaan manusia sehingga manusia harus senantiasa mengingat Penciptanya.

18.    Gorga Hoda-Hoda
Gorga Hoda-Hoda ini berbentuk orang yang sedang mengendarai kuda (hoda). Gambar tersebut menggambarkan suasana pesta adat yang besar, yaitu mangaliat horbo (pesta besar). Gorga Hoda-Hoda ini merupakan lambang kebesaran.

19.    Gorga Ulu Paung
Gorga Ulu Paung merupakan hiasan raksasa yang berbentuk setengah manusia dan setengah hewan, sering dijumpai dalam bentuk kepala manusia bertanduk kerbau. Gorga Ulu Paung ini merupakan lambang keperkasaan untuk melindungi seisi rumah dari setan-setan. Di beberapa daerah, Ulu Paung tersebut masih dibuat dari kepala kerbau yang asli.

*)dari berbagai sumber

Gorga dengan segala bentuk, makna, ataupun manfaat yang memberikan kemegahan tersebut harus tetap dilestarikan dari generasi  ke generasi karena merupakan warisan seni yang tidak ternilai harganya. Sebagai wujud pelestarian budaya tersebut, perlu dilakukan inventarisasi terhadap dokumen-dokumen yang menunjukkan kekayaan budaya tersebut, wawancara dengan tokoh budaya, pembentukan sanggar-sanggar budaya, pembangunan museum budaya atau usaha-usaha lain yang dapat mendukung pelestarian budaya tersebut. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi cara untuk menjaga nilai-nilai budaya yang asli tersebut.

Kegiatan pelestarian budaya tersebut, khususnya gorga memiliki dampak positif untuk menarik minat wisatawan dalam mengunjungi daerah di sekitar Danau Toba. Misalnya, belajar membuat gorga di sanggar-sanggar budaya, pameran dokumentasi berbagai motif gorga, dan banyak kegiatan lain yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan. Hal ini juga harus mendapat dukungan dari berbagai media, baik elektronik maupun cetak, maupun situs-situs jejaring sosial sehingga dapat terpublikasi dengan luas.

Dalam era industri saat ini didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga dapat membantu pelestarian budaya tersebut. Teknologi dijital di era ini dapat mempermudah dalam pencetakan aksesoris yang bermotif gorga. Pembuatan pakaian dengan motif gorga sehingga dapat dijual di daerah sekitar Danau Toba dapat menambah daya tarik wisata sebagai salah satu bentuk kenang-kenangan yang diminati banyak orang. Pembuatan hasil kerajinan tangan (handycraft) yang tentunya bermotif gorga dengan bantuan mesin-mesin industri bisa menambah kuantitas bahkan mungkin kualitas karya tersebut. Inipun bisa menjadi kenang-kenangan dan lagi-lagi saya anggap dapat menjadi daya tarik wisata. Hal ini dapat menjadi perhatian para perantau, pelajar/mahasiswa, tokoh budaya, dan terutama masyarakat sekitar Danau Toba. Molo dang hita, ise be??? HORAS!

Biodata Penulis

Nama Lengkap : Niko Saripson Pandapotan Simamora
Tempat/Tanggal Lahir : Sidikalang, 16 Februari 1989
Alamat     Jl. Titiran Dalam No. 11B, Kota Bandung
Pekerjaan         : Mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB
No.HP             : 081382929630/08562015252
Email             : niko_sims@yahoo.com/nikomamora@students.itb.ac.id

Ayo gabung di fans page Facebook nya gobatak Klik Disini, sambil minum Kopi Luwak Lintong yang asli dari tanah Batak Order Disini | Silahkan membuat tautan balik (backlink) situs ini (http://www.gobatak.com) pada website atau blog pribadi anda – kirim berita atau artikel & untuk memasang iklan di situs gobatak, silahkan email kami di alamat ini: parhobas@gobatak.com | Mauliate. Horas

Kaos Polos Murah Siantar

NO COMMENTS

Leave a Reply