9 Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba

9

Pengantin perempuan dijemput oleh pengantin laki-laki bersama orang tua, kaum kerabat dan para undangan ke rumah orang tuanya. Pihak pengantin laki-laki sering menyebut istilah ini mangalap boru( menjemput pengantin perempuan). Pada acara merunjuk inilah akan berjalan semua upacara perkawinan dari makan sibuhai-buhai, pembagian, dan mangulosi.

8. Paulak Une
Acara ini dimasukkan sebagai langkah agar kedua belah pihak bebas saling kunjung mengunjungi setelah beberapa hari berselang setelah upacara perkawinan yang biasanya dilaksanakan seminggu setelah upacara perkawinan, pihak pengantin laki-laki dan kerabatnya, bersama pengantin pergi ke rumah pihak orang tua pihak pengantin perempuan. Kesempatan inilah pihak perempuan mengetahui bahwa anak perempuanya betah tinggal di rumah mertuanya.

9. Maningkir Tangga
Upacara ini pihak perempuan pergi mengunjungi pengantin dirumah pihak laki-laki, dimana mereka makan bersama melakukann pembagian jambar. Pada hakekatnya maningkir tangga ini dimaksudkan agar pihak perempuan secara langsung melihat dari keadaan putrinya dan suaminya karena bagaimanapun mereka telah terikat oleh hubungan kekeluargaan dan sekaligus memberi nasehat dan bimbingan kepada pengantin dalam membina rumah tangga.

Kesepakatan pada nilai-nilai sosial merupakan dasar yang penting bagi banyak kelompok, terutama dalam perkawinan. Tiap-tiap pasangan perkawinan mempunyai nilai-nilai budaya sendiri, hal-hal yang dianggap penting oleh masing-masing pihak. Jarang sekali hal ini disepakati secara lengkap. Setiap pasangan dapat berbeda keinginannya dalam menentukan hal-hal seperti pengaturan keuangan, rekreasi, agama, memperlihatkan kasih sayang, hubungan-hubungan dengan menantu mereka, dan tata cara.

Nilai-niali sosial meliputi berbagai pola-pola tingkah laku yang luas. Suatu nilai yang penting adalah perkawinan itu sendiri. Pada dasarnya, sikap terhadap perkawinan, seperti suatu nilai sering merupakan faktor penentu dalam keberhasilan perkawinan. Bagi kebanyakan orang, perkawinan adalah nilai tunggal mereka paling penting, dan mereka akan berbuat segalanya yang dapat mereka lakukan untuk menyesuaikan secara memuaskan.

Untuk keperluan Pernikahan Adat Batak, cek disini

9 COMMENTS

  1. paulak une..
    Paulak une (paulak = mengembalikan, une = bagus,pantas, baik).
    karena bagi orang Batak pernikahan itu sangat sakral dan tidak boleh sembarangan memilih jodoh atau menantu, maka ada istilah “mulak sadari” (pulang dlm waktu satu hari). Menantu perempuan yang telah dinikahi akan diuji atau dinilai oleh keluarga laki-laki apakah “pantas” menjadi menantu atau tidak. waktu penilaian tidak dapat ditentukan, itu sesuai dengan kondisi. Apabila keluarga laki-laki telah menilai kelayakan pengantin wanita untuk jadi istri anaknya istri maka diadakanlah acara paulak une kerumah keluarga perempuan dengan membawa daging (babi). disana akan diketahui dan diberitahukan kepada pihak perempuan apakah boru (anak perempuan) mereka (kel wanita) une ataukah sebaliknya. Jika tidak une maka menantu perempuan itu dikembalikan secara baik-baik kepada mereka (tidak peduli apakah si perempuan udah hamil sama anaknya atau belum). itulah penyebab gadis-gadis Batak zaman dahulu sangat telaten dalam urusan keluarga dan tidak dimanjakan serta selalu dilatih oleh ibunya untuk bekerja, agar kelak borunya itu disenangi oleh keluarga suaminya/mertuanya kelak.

    TINGKIR TANGGA
    Tingkir tangga (melihat rumah) dilakukan oleh keluarga wanita. Pada Zaman dahulu, seseorang/keluarga dapat dinilai kekayaan/kesejahteraannya dari jumlah tannga rumah mereka. Biasanya semakin tinggi kehidupan ekonominya maka semakin tinggi pula letak rumahnya (rumah batak) diikuti jumlah tangga untuk memasukinya akan semakin banyak. Sehingga acara ini dinamakan tingkir tangga. Tentu hal ini telah di ketahui oleh umum..Tingkir tangga dilakukan dengan mengunjungi rumah keluarga laki-laki/menantu mereka. Tujuannya untuk memastikan/melihat kondisi harta dan kemampuan pihak laki-laki dalam memenuhi kebutuhan putrinya. Apakah keluarga suaminya memiliki harta yang cukup untuk menjamin hidup ekonomi putri dan cucu mereka nantinya. Keluarga perempuan akan membawa dengke (ikan mas) dalam kunjungannya. sekian dan terimakasih

  2. Sesungguhnya sekarang ini banyak orang batak sudah membias dari fisafah adat batak yang dirutunkan nenek moyang.Perkawinan sangat sakral maka dibuat berbagai macam tahapan untuk menunjukkan ke sakralan itu.Sakral berarti pemuda maupun pemudi harus menjaga diri agar jangan sampai jatuh kepada perbuatan yang tidak suci,menjaga keperawana dan keperjakaan sampai pada hari pernikahan.Makanya ada istilah paulak une.Jika ternyata tidak ada lagi keperjakaan dan keperawanan maka dapat berakibat fatal.Jadi harus une dulu.Urut-urutannya sedemikian rupa sehingga tahap demi tahap merupakan jaring menuju ke bahagiaan.Sayangnya sudah banyak yang kurang memahaminya.Dan para penulis kurang masuk kepada yang sangat mendasar ini.Banyak lagi lah.Tantangan kepada si raja adat.

  3. Perlu digarisbawahi Buat Muda Mudi batak jaman Now:
    Bahwa Perkawinan Batak Toba sangat suci dan sakral, oleh karena itu baik pemuda maupun pemudi haruslah menjaga kesuciannya karena pada akhirnya nanti nama baik keluarga dipertaruhkan.
    ———————————————————-
    paulak une..
    Paulak une (paulak = mengembalikan, une = bagus,pantas, baik).
    karena bagi orang Batak pernikahan itu sangat sakral dan tidak boleh sembarangan memilih jodoh atau menantu, maka ada istilah “mulak sadari” (pulang dlm waktu satu hari). Menantu perempuan yang telah dinikahi akan diuji atau dinilai oleh keluarga laki-laki apakah “pantas” menjadi menantu atau tidak. waktu penilaian tidak dapat ditentukan, itu sesuai dengan kondisi. Apabila keluarga laki-laki telah menilai kelayakan pengantin wanita untuk jadi istri anaknya istri maka diadakanlah acara paulak une kerumah keluarga perempuan dengan membawa daging (babi). disana akan diketahui dan diberitahukan kepada pihak perempuan apakah boru (anak perempuan) mereka (kel wanita) une ataukah sebaliknya. Jika tidak une maka menantu perempuan itu dikembalikan secara baik-baik kepada mereka (tidak peduli apakah si perempuan udah hamil sama anaknya atau belum). itulah penyebab gadis-gadis Batak zaman dahulu sangat telaten dalam urusan keluarga dan tidak dimanjakan serta selalu dilatih oleh ibunya untuk bekerja, agar kelak borunya itu disenangi oleh keluarga suaminya/mertuanya kelak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.