Home Breaking News 9 Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba

9 Proses Perkawinan Dalam Budaya Batak Toba

4 35345
proses pernikahan batak

Apa saja 9 proses perkawinan dalam budaya Batak Toba? Pada suku Batak Toba perkawinan adalah merupakan suatu peristiwa besar, mengundang hulahula, boru, dongan tubu serta dongan sahuta sebagai saksi pelaksanan adat yang berlaku. Dalam adat Batak Toba perkawinan haruslah diresmikan secara adat berdasarkan adat dalihan na tolu, yakni Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Perkawinan pada masyarakat Batak Toba sangat kuat sehingga tidak mudah untuk bercerai karena dalam perkawinan tersebut banyak orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Adapun tata cara perkawinan secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu ialah perkawinan yang mengikuti tahap-tahap berikut:

1. Mangaririt
Mangaririt adalah ajuk-mengajuk hati atau memilih gadis yang akan dijadikan menjadi calon istrinya sesuai dengan kriterianya sendiri dan kriteria keluarga. Acara mangaririt ini dilakukan kalau calon pengantin laki-lakinya adalah anak rantau yang tidak sempat mencari pasangan hidupnya sendiri, sehingga sewaktu laki-laki tersebut pulang kampung, maka orang tua dan keluarga lainya mencarai perempuan yang cocok denganya untuk dijadikan istri, tetapi perempuan yang dicarikan tersebut harus sesuai dengan kriteria silaki-laki dan kriteria keluarganya.

1 2 3 4 Baca Selanjutnya
Visit Huta 2011

facebook comments:


4 COMMENTS

  1. paulak une..
    Paulak une (paulak = mengembalikan, une = bagus,pantas, baik).
    karena bagi orang Batak pernikahan itu sangat sakral dan tidak boleh sembarangan memilih jodoh atau menantu, maka ada istilah “mulak sadari” (pulang dlm waktu satu hari). Menantu perempuan yang telah dinikahi akan diuji atau dinilai oleh keluarga laki-laki apakah “pantas” menjadi menantu atau tidak. waktu penilaian tidak dapat ditentukan, itu sesuai dengan kondisi. Apabila keluarga laki-laki telah menilai kelayakan pengantin wanita untuk jadi istri anaknya istri maka diadakanlah acara paulak une kerumah keluarga perempuan dengan membawa daging (babi). disana akan diketahui dan diberitahukan kepada pihak perempuan apakah boru (anak perempuan) mereka (kel wanita) une ataukah sebaliknya. Jika tidak une maka menantu perempuan itu dikembalikan secara baik-baik kepada mereka (tidak peduli apakah si perempuan udah hamil sama anaknya atau belum). itulah penyebab gadis-gadis Batak zaman dahulu sangat telaten dalam urusan keluarga dan tidak dimanjakan serta selalu dilatih oleh ibunya untuk bekerja, agar kelak borunya itu disenangi oleh keluarga suaminya/mertuanya kelak.

    TINGKIR TANGGA
    Tingkir tangga (melihat rumah) dilakukan oleh keluarga wanita. Pada Zaman dahulu, seseorang/keluarga dapat dinilai kekayaan/kesejahteraannya dari jumlah tannga rumah mereka. Biasanya semakin tinggi kehidupan ekonominya maka semakin tinggi pula letak rumahnya (rumah batak) diikuti jumlah tangga untuk memasukinya akan semakin banyak. Sehingga acara ini dinamakan tingkir tangga. Tentu hal ini telah di ketahui oleh umum..Tingkir tangga dilakukan dengan mengunjungi rumah keluarga laki-laki/menantu mereka. Tujuannya untuk memastikan/melihat kondisi harta dan kemampuan pihak laki-laki dalam memenuhi kebutuhan putrinya. Apakah keluarga suaminya memiliki harta yang cukup untuk menjamin hidup ekonomi putri dan cucu mereka nantinya. Keluarga perempuan akan membawa dengke (ikan mas) dalam kunjungannya. sekian dan terimakasih

Leave a Reply